Dikutip dari pos-kupang.com, Kota Kupang mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Ini dipengaruhi banyak hal, salah satunya letak Kota Kupang yang strategis juga sebagai ibukota Provinsi NTT.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan perkumpulan PIKUL, Kota Kupang rupanya didatangi oleh berbagai imigran usia kerja dari berbagai wilayah.

Tahun 2017, Perkumpulan PIKUL melakukan survei terhadap 500 pekerja muda (usia 15-29 tahun) di Kota Kupang, disertai wawancara dan diskusi terarah bersama pekerja muda, pemerintah, pemilik usaha, maupun organsiasi masyarakat sipil.

Dari hasil penelitian yang diterbitkan dalam bentuk majalah tersebut, dijelaskan sebagian besar pekerja muda di Kota Kupang berasal dari dari wilayah-wilayah pedesaan yang tersebar di berbagai kabupaten di NTT (93,9 persen), dan sisanya datang dari Pulau Jawa (3,8 persen).

“Jumlah paling besar datang dari kabupaten-kabupaten di pulau Timor,” ujar Tori Kuswardono, Direktur Perkumpulan PIKUL, kepada POS-KUPANG.COM, Selasa (11/12/2018).

Selain kabupaten-kabupaten yang berada di Pulau Timor (33,1 persen), imigran dari kabupaten lain yang mendiami kota Kupang dengan jumlah cukup tinggi adalah Rote (16,7). Penduduk Rote usia kerja (15-29 tahun) sedikit lebih banyak dari penduduk Sabu (16,0 persen).

Jumlah imigran usia kerja dari Kabupaten Alor sebanyak 6,5 persen, lebih tinggi dari jumlah imigran asal Pulau Flores yang hanya mencapai 4,6 persen.

Selain itu, dari Belu dan Meto (Dawan) masing-masing 6,1 persen. Pulau Sumba 2,7 persen, Pulau Adonara dan Lembata masing-masing 0,8 persen.

Baik migran laki-laki maupun perempuan lebih banyak belum menikah (78 persen), dengan pekerja wanita yang belum menikah jauh lebih banyak dari laki-laki.

Add comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *